Dibacakan Hingga Tersedu Sedu Puisi Kerinduan Kiai Kepada Santri Di Tengah Pandemi Corona

<p>TRIBUN-VIDEO.COM - Pandemi COVID-19 memaksa penghentian seluruh aktivitas belajar mengajar tak terkecuali di Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren.</p>
<p>Pesantren-pesantren yang biasanya ramai dengan kegiatan pengajian kitab kuning selama Ramadan, saat ini sepi karena santri-santri dipulangkan ke kampung halaman bahkan sebelum datangnya bulan Ramadan.</p>
<p>Tiadanya aktivitas di Pondok  Pesantren ini membuat Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, KH Imam Jazuli, bersedih dan menumpahkan kesedihannya lewat sebuah puisi yang cukup viral beredar di kalangan santri-santriwati.</p>
<p>Berikut petikan puisi tersebut:</p>
<p>HIKAYAT RINDU<br />
KH Imam Jazuli</p>
<p>Setelah pandemi, tiba-tiba semua terasa sunyi<br />
kelas sekolah, ruang diniyah, pendopo, bangku dan almari<br />
jalan-jalan kecil yang melingkar, serta sebuah sungai<br />
yang berliku membelah perkampungan semua dililit sepi<br />
Aduhai, Ramadhan yang seharusnya kita bersama menyemai ayat suci<br />
kini seperti aku sendiri ditenggelamkan sinar bulan</p>
<p>Kau tahu, anak-anakku, disini aku berjempalian sepanjang malam<br />
bergetar karena menahan rasa ingin segera bertemu kalian?<br />
rindu ini membakar ke seluruh sukmaku tiba-tiba<br />
kuresapi segalanya tentang kehadiran dan ketiadaan<br />
kukerahkan semua kelopak mataku agar kuat menyanggah bayanganmu</p>
<p>Oh, Seperti saat ini, di remang waktu aku menggali kenanganmu<br />
dari tiap wajahmu yang ceria Untuk kunyalakan dalam jiwa<br />
aku memintal benang rindu dari sepanjang lorong rahasiamu<br />
untuk kudendangkam diam-diam, berjihad melawan sepi<br />
karena bukankah kita sudah ditakdirkan bersama menjadi pecinta?<br />
hari-hariku dan hari-harimu adalah sebuah doa dan cita-cita</p>
<p>Tetapi saat jauh seperti ini? Bagaimana kabarmu, anak-anakku?<br />
apakah masih sempat kau mendaras ayat demi ayat dan aksara demi aksara?<br />
tabah dan tekun belajar seperti perbukitan dengan air mancurnya<br />
yang menyemburkan kilatan cahaya?</p>
<p>Aduhai, sunggguh matahari hanya mengisyaratkan kecerianmu dari jauh<br />
dan kalian tahu, insyaallah kebun cinta dan doa tumbuh lebat di dadaku<br />
karena luasnya cakrawala, tak bisa kujengkal jaraknya lagi<br />
Oh, apakah ini sesuatu yang bisa kita sebut rindu?<br />
agar dalam jauh kita bisa saling bertaut dan mendoakan?</p>
<p>Cirebon, 1 Mei 2020</p>

Dibacakan Hingga Tersedu Sedu Puisi Kerinduan Kiai Kepada Santri Di Tengah Pandemi Corona

TRIBUN-VIDEO.COM - Pandemi COVID-19 memaksa penghentian seluruh aktivitas belajar mengajar tak terkecuali di Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren.

Pesantren-pesantren yang biasanya ramai dengan kegiatan pengajian kitab kuning selama Ramadan, saat ini sepi karena santri-santri dipulangkan ke kampung halaman bahkan sebelum datangnya bulan Ramadan.

Tiadanya aktivitas di Pondok Pesantren ini membuat Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, KH Imam Jazuli, bersedih dan menumpahkan kesedihannya lewat sebuah puisi yang cukup viral beredar di kalangan santri-santriwati.

Berikut petikan puisi tersebut:

HIKAYAT RINDU
KH Imam Jazuli

Setelah pandemi, tiba-tiba semua terasa sunyi
kelas sekolah, ruang diniyah, pendopo, bangku dan almari
jalan-jalan kecil yang melingkar, serta sebuah sungai
yang berliku membelah perkampungan semua dililit sepi
Aduhai, Ramadhan yang seharusnya kita bersama menyemai ayat suci
kini seperti aku sendiri ditenggelamkan sinar bulan

Kau tahu, anak-anakku, disini aku berjempalian sepanjang malam
bergetar karena menahan rasa ingin segera bertemu kalian?
rindu ini membakar ke seluruh sukmaku tiba-tiba
kuresapi segalanya tentang kehadiran dan ketiadaan
kukerahkan semua kelopak mataku agar kuat menyanggah bayanganmu

Oh, Seperti saat ini, di remang waktu aku menggali kenanganmu
dari tiap wajahmu yang ceria Untuk kunyalakan dalam jiwa
aku memintal benang rindu dari sepanjang lorong rahasiamu
untuk kudendangkam diam-diam, berjihad melawan sepi
karena bukankah kita sudah ditakdirkan bersama menjadi pecinta?
hari-hariku dan hari-harimu adalah sebuah doa dan cita-cita

Tetapi saat jauh seperti ini? Bagaimana kabarmu, anak-anakku?
apakah masih sempat kau mendaras ayat demi ayat dan aksara demi aksara?
tabah dan tekun belajar seperti perbukitan dengan air mancurnya
yang menyemburkan kilatan cahaya?

Aduhai, sunggguh matahari hanya mengisyaratkan kecerianmu dari jauh
dan kalian tahu, insyaallah kebun cinta dan doa tumbuh lebat di dadaku
karena luasnya cakrawala, tak bisa kujengkal jaraknya lagi
Oh, apakah ini sesuatu yang bisa kita sebut rindu?
agar dalam jauh kita bisa saling bertaut dan mendoakan?

Cirebon, 1 Mei 2020